Pada hari ini sang tentor sangat bahagia, kebahagiannya melebihi kebahagiaan ketika dia menemukan emas 24 karat di pinggir jalan, kebahagiannya sangat membahagiakan dirinya. Dia telah menemukan sebuah mutiara yang sangat cantik yang terbenam diantara setumpukan emas lainnya. Sang Tentor
baru menyadari akan kehadiran dari Mutiara tersebut. Padahal mutiara tersebut selalu ada didekatnya. Sang tentor tidak menyadari akan kehadirannya, dia hanya terfokus kepada emas-emas lainnya yang memiliki kadara karat yang berbeda-beda.
"5 pangkat 3?"
pertanyaan dari pembuat emas kepada 12 emas yang berada dalam ruangan yang begitu hening.
Semua emas didalam ruangan tersebut mulai menghitung di atas kertasnya masing-masing. Hanya sebuah emas yang tidak menghitung pertanyaan yang diberikan kepada sang tentor tersebut.
"Emas ini memang sebuah emas yang kadar karatnya lebih rendah dari yang lainnya"
Guma sang pembuat emas dalam hatinya. Hati yang sangat mebenci dirinya sendiri karena ketidak bisaannya untuk membuat emas itu menjadi emas yang memiliki kadar karat yang tinggi.
"Aku hanya harus mengkhususkannya emas ini."
Harapan seorang pembuat emas agar emas itu kelak akan menjadi primadona didalam etalase toko penjualan emas.
Dihampirilah emas tersebut, emas yang kadarnya sangat-sangat jelek dibandigkan dengan yang lainnya.
"5 pangkat 3?"
Pertanyaan seorang pembuat emas kepada emas itu.
"5 x 5 samadengan 25. 25 dikali 10 sama dengan...
Belum selesai sang emas bicara sang tentor memotong perkataan.
"5 pangkat 3. 5 dikali 5 sama dengan 25. 25 dikali 5. buakn dikali 10. Kamu ini bisa apa tidak sih?"
ucapa sang tentor untuk memotong perkataan dari emas itu.
"Iya kak. saya tahu"
Jawab sang emas dengan nada lirih sambil menundukkan kepadanya ke meja dimama tempat yang dia duduki.
"5 x 5 samadengan 25. 25 dikali 10 sama dengan..."
Ucapan itu terulang kembali.
"Dek kamu paham tidak sih. pertanyaan yang kakak berikan kepadamu."
Sang tentor hanya bisa meninggikan nadanya sampai 2 not saja.
"Iya kak. saya tahu"
Jawab sang emas dengan nada sangat lirih sambil menundukkan kepadanya ke meja dimama tempat yang dia duduki.
Mutiara itu adalah seorang anak laki laki yang selalu ada dalam sebuah kelas yang diajarkan oleh sang tentor.
"5 x 5 samadengan 25. 25 dikali 10 sama dengan..."
Ucapan itu terucap kemabali dari mulut emas tersebut.
"Ya Tuhan"
Sang pembuat emas hanya bisa memanjatkan keluh kesalnya kepada Tuhannya.
"Terserah apa yang kamu lakukan dek yang penting berapa hasilnya"
Ucpan sang pembuat emas dengan putus asa.
"125"
Jawaban dari emas tersebut.
"Lah itu sudah tau. kenapa cara menghitungmu salah?"
"Salah yang mana kak?"
bantah sang emas tersebut.
" Ya yang itu"
Jawab sang pembuat lemas.
"5 x 5 samadengan 25. 25 dikali 10 samadengan 250. 250 dibagi 2 samdengan 125."
"yang ini kak?"
Penjelasan dari sang emas.
"Apa?"
Tanya sang pembuat emas heran.
"5 x 5 samadengan 25. 25 dikali 10 samadengan 250. 250 dibagi 2 samdengan 125."
"yang ini kak?"
Penjelasan sang emas dengan perlahan-lahan kepada sang pembuat emas.
"Kenapa harus di 10 terus dibagi 2?"
Tanya sang Pembuat emas.
"Soalnya perkalian 10 gamapang untuk diingat."
Jawab sang emas dengan polosnya.
Karena hal itulah sang pembuat emas menyadari akan adanya sebuah mutiara yang ada didalam tumpukan emas yang digembleng untuk menjadi sebuah perhiasang emas yang sangat mahal.
Sang pembuat emas hanyalah seorang pembuat emas yang hanya bisa mengempleng emas yang memiliki kadar yang jelek menjadi kadar karatnya yang bagus. Sang tentor berfikiran bahwa sang mutiara tersebut hanyalah emas yang kadar karatnya sangatlah jelek.
Sang mutiara tidak akan bisa menjadi mutiara yang cantik jika perlakuannya seperti kita memperlakukan emas untuk membuatnya memiliki kadar karat yang bagus.
Sang pembuat emas adalah sang tentor yang selalu mengajar di sebuah ruangan, bukan kelas, ruangan yang didalamnya ada kegiatan belajar mengajar dengan murid-muridnya.

0 komentar:
Posting Komentar