Ketika aku jatuh kamu datang dan mengulurkan tanganmu kepadaku, tapi aku menolaknya dan berterima kasih.
Ketika aku jatuh lagi kamu datang dan mengulurkan tanganmu sekali lagi kepadaku, tapi aku tetap menolak uluran tangan itu dan bangkit lagi dengan kekuatanku sendiri.
Kau selalu datang disaat aku terjatuh, dan engkau selalu berusaha menglurka tanganmu kepadaku, dan aku tetap menolaknya tanpa sebuah alasan yang jelas. aku menolaknya karena aku takut.
Pada saat itu aku melihat ketulusanmu untuk menolongku bangkit dari jatuhku. Akupun mulai belajar untuk menerima uluran tanganmu dan belajar untuk bisa memegang uluran tanganmu itu.
Aku merasakan rasa yang belum pernah aku rasakan ketika aku memegang uluran tanganmu saat aku jatuh. Karena uluran tangnmu aku bisa berlari tanpa jatuh lagi. aku mengerti apa arti dari uluran tanagnmu itu. aku tak akan melepas uluran tanganmu sejak saat itu.
Aku mulai terlena dengan uluran tanganmu itu.
Akhirnya . . .
Ketika aku sudah mengantungkan tanganku untuk selalu menerima uluran tanaganmu, kamu tidak megulurkan tanganmu kepadaku lagi.
Mungkin kamu lelah selalu mengulurkan tanganmu, mungkin kamu lelah aku selalu memegang tanganmu dengan erat, mungkin aku terlalu keras memegang tanganmu sehingga kamu tidak bisa mengunakan tanganmu untuk segala hal.
Sejak saat itu aku mulai melepaskan tanganmu yang selalu aku pengang dengan erat agar kamu bisa melalukan semua hal yang tidak bisa kamu lakukan saat tanganmu selalu bergenggam tanganku.
Sejak saat itu juga aku kehilangan tanganmu, tangan yang selalu kau ulurkan saat aku jatuh.
Sekarang aku jatuh, tak ada yang mengulurkan tangan lagi. Tak ada lagi tangan yang selalu aku pengang, tak ada lagi tangan lembut yang memberikan aku semangat untuk bangkit lagi.
Ketakutanku akhirnya terwujud juga.
Terima kasih untuk semua uluran tanganmu, terima kasih sudah memberikan banyak pelajaran dengan uluran tanganmu itu, terima kasih untuk segala hal yang tanganmu berikan kepadaku.
aku sadar sekarang bahwa aku harus berusaha bangkit dengan kedua tanganku sendiri. Dengan tangan yang aku miliki. Dengan kedua tangan yang diberikan Tuhan kepadaku.
Jika ada uluran tanagan lagi, mungkin aku tidak akan memegang tangan itu.

0 komentar:
Posting Komentar